Pro Kontra Proyek Reklamasi Teluk Jakarta

Kasus_reklamasi_teluk_jakarta

Reklamasi teluk jakarta dulunya dikenal sebagai pantai utara jakarta yang berada di sebelah utara, tempat ini menjadi muara dari dua sungai yaitu sungai Ciliwung dan Cisadane dan juga 13 sungai lainnya yang berhulu di kota Bogor. Pada tahun 1995, proyek reklamasi ini berawal yang dilakukan oleh pemerintah yang ditetapkan oleh presiden Soeharto tanggal 13 juli 1995. Kepres no 52 tahun 1995 tersebut menetapkan bahwa reklamasi merupakan usaha penataan dan pengembangan daratan pantai guna mewujudkan daerah pantai utara sebagai kawasan yang bernilai strategis yang dipandang dari sudut ekonomi dan perkembangan kota. Proyek ini pun terus berlanjut sampai sekarang.

Apa itu reklamasi? Reklamasi merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan dalam rangka meningkatkan sumber daya lahan untuk suatu keperluan rencana tertentu. Reklamasi daratan adalah suatu proses untuk pembuatan sebuah daratan baru dari dasar sungai ataupun lautan, ini bertujuan untuk melakukan perbaikan suatu kawasan yang rusak agar bisa bermanfaat untuk di jadikan tempat rekreasi maupun kawasan pemukiman masyarakat.

Dalam upaya reklamasi tentunya harus melibatkan semua pihak baik orang-orang penting ataupun orang sekitar kawasan tersebut, serta memikirkan dampak dari reklamasi itu sendiri apakah menimbulkan manfaat yang positif bagi lingkungan dan masyarakat atau bahkan banyak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan.

Ternyata proyek reklamasi teluk Jakarta ini banyak menimbulkan pro dan kontra dikalangan pemerintahan dan masyarakat. Seperti yang dapat kita baca pada kumpulan berita kasus reklamasi okezone, diantaranya memberitakan tentang dugaan adanya kasus suap dalam pembangunan proyek tersebut, hingga kekhawatiran para nelayan tradisional pada aktivitas pembangunan proyek tersebut. Hal ini dikarenakan akibat dari pembangunan proyek tersebut banyak ikan yang mati dan nelayan pun kesulitan untuk menangkap ikan di sekitar kawasan tersebut. Ikan yang ingin ditangkap berkurang, bahkan ikan-ikan pergi akibat dari limbah proyek reklamasi tersebut. Dengan adanya proyek reklamasi tersebut, pengahasilan dari para nelayan menjadi menurun drastis.

Para nelayan pun mengajukan gugatan hukum, mereka merasa khwatir akan rusaknya ekosistem laut di Muara Angke yang juga berdampak pada pengahasilan mereka sebagai nelayan. Merekapun mengkhwatirkan pada 13 sungai yang bermuara ke teluk Jakarta tersebut akibat dampak dari proyek reklamasi tersebut.

Proyek reklamasi Jakarta ini pun dianggap akan memperparah banjir yang kerap kali terjadi di Jakarta. Menurut para ahli kelautan ITB, ini disebabkan karena reklamasi dapat memperpanjang sungai, sehingga kemiringan air semakin kecil dan alirannya menjadi lebih kecil pula, serta banyaknya air tawar yang masuk sehingga air asin yang diperlukan hutan mangrove menjadi berkurang, mengakibatkan tumbuhan bakau menjadi mati.

Adanya pelaksanaan reklamasi pulau G yang di duga ada tindakan korupsi ,yang mana uang tersebut digunakan untuk kelancaran pengesahan Raperda mengenai 17 pulau reklamasi. Pelaksanaan proyek reklamasi ini pun dilakukan dengan cara yang tidak trasparan, karena para nelayan yang merasa tidak pernah diajak ikut bicara ataupun diskusi, tidak jelasnya sumber material yang digunakan dalam proyek tersebut serta sumber air bersih untuk masyarakat sekitar pada saat akan mendirikan bangunan pun belum jelas, yang pastinya akan berdampak buruk bagi nelayan ataupun masyarakat pesisir.

Presiden Joko widodo (jokowi) mengingatkan bahwa penurunan permukaan tanah di DKI Jakarta sangatlah mengkhawatirkan 7,5-12 cm per tahun, diperkirakan jakarta akan tenggelam pada tahun 2030 jika Jakarta tidak memilki ketahanan dan daya dukung lingkungan yang berkelanjutan.

Untuk mengetahui lebih banyak tentang kasus-kasus reklamasi, anda bisa membaca dan mengetahui melalui kumpulan berita kasus reklamasi okezone, disitu anda akan mendapatkan banyak berita tentang pro dan kontra kasus reklamasi teluk Jakarta.